Musim Covid Warga Cireundeu Aman Saja

Cimahi,Timejabar.Com- Pandemi mengguncang kehidupan masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Sektor kesehatan dan ekonomi porak-poranda diterpa badai Covid-19 yang tak kunjung reda.

PHK terjadi di mana-mana. Banyak orang kehilangan pekerjaan hingga tak bisa makan. Namun frasa tersebut hanya terdengar seperti dongeng belaka bagi masyarakat yang tinggal di balik lekuk 'lamping' perbukitan Cireundeu, Desa Leuwigajah, Kecamatan Cimahi Selatan, Kota Cimahi, Jawa Barat.

Permukiman yang dikenal sebagai Kampung Adat Cireundeu itu terasa aman dan damai meski pandemi melanda seluruh bagian negeri. Warga muslim dan para penghayat sunda wiwitan di sana hidup saling berdampingan, tanpa kekurangan satu hal pun.

Mereka terlihat sehat dengan wajah-wajah yang tampak lebih muda dari umur badan. Anak-anak pun berlarian penuh keceriaan menyusuri jalan setapak perkampungan. Kaum wanitanya sibuk mengasuh bocah. Adapula yang mengerjakan urusan rumah. Sementara para lelaki, beberapa ada yang kerja di kebon, menanam singkong dan palawija lainnya. Sejumlah kecil ada yang terlihat berangkat kerja ke kantor atau pabrik menggunakan kendaraan beroda dua.

"Apa itu corona? Di sini mah tidak ada corona," ujar Ketua Adat Kampung Cireundeu Abah Emen Sunarya, Senin (16/11/2020).

Sang tetua adat bertanya 'Apa itu corona?' bukan berarti dia tak tahu ada virus yang melanda dunia. Di rumahnya terdapat televisi, bahkan terpasang wifi. Tentu saja Abah Emen bisa mengakses informasi tentang virus corona yang sedang jadi perbincangan semua orang. Toh, dia adalah seseorang yang berpendidikan dan pernah menjadi guru di sekolah formal.

"Yang bekerja ya kerja, yang bertani ya tani," tutur Abah Emen.

Apalagi terkait sektor pangan dan perekonomian, pria berusia 84 tahun itu merasa tak ada perubahan yang berarti dengan adanya pandemi. Menurutnya pasokan makanan warga Kampung Adat Cireundeu masih aman-aman saja. Semua warga penghayat makan beras singkong seperti biasanya.

Tak ada lonjakan harga pangan yang mencekik warga. Karena warga menanam singkong dan mengolahnya sendiri. Hal ini pun diakui salah seorang warga penghayat kampung Cireundeu, Sudrajat. Menurutnya, kehidupan warga Kampung Adat Cireundeu masih berjalan normal meski ada pandemi di luar.

Pria yang akrab disapa Jajat itu menuturkan, sebagian besar warga Cireundeu hidup bergantung pada sektor pertanian. Mereka mengolah lahan dan membuat sendiri bahan makanan. Namun ada pula yang bekerja di luar. Tapi untuk kebutuhan pangan, masyarakat yang bekerja di luar juga tetap mengandalkan produksi beras singkong dalam kampung.

"Ya, untuk ekonomi sih tidak terpengaruh apa-apa. Karena siklusnya kan hanya di dalam perkampungan saja. Di sini kita mengolah makanan sendiri, tidak mengandalkan pasokan dari luar," ungkap Jajat.

  • Bagikan melalui: